<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cemenk Cantique &#187; Fiksi</title>
	<atom:link href="http://cemenk-cantique.com/category/fiksi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cemenk-cantique.com</link>
	<description>Just Another</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Nov 2009 23:31:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pekerjaan Yang Mustahil</title>
		<link>http://cemenk-cantique.com/pekerjaan-yang-mustahil</link>
		<comments>http://cemenk-cantique.com/pekerjaan-yang-mustahil#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 20:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cemenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah 1001 malam]]></category>
		<category><![CDATA[abu nawas]]></category>
		<category><![CDATA[bilqis]]></category>
		<category><![CDATA[datang ke]]></category>
		<category><![CDATA[hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[idul qurban]]></category>
		<category><![CDATA[ke atas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cemenk-cantique.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Baginda baru saja membaca kitab tentang kehebatan Raja Sulaiman yang mampu memerintahkan, para jin memindahkan singgasana Ratu Bilqis di dekat istananya. Baginda tiba-tiba merasa tertarik. Hatinya mulai tergelitik untuk melakukan hal yang sama. Mendadak beliau ingin istananya dipindahkan ke atas gunung agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di sekitar. Dan bukankah hal itu tidak mustahil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baginda baru saja membaca kitab tentang kehebatan Raja Sulaiman yang mampu memerintahkan, para jin memindahkan singgasana Ratu Bilqis di dekat istananya. Baginda tiba-tiba merasa tertarik. Hatinya mulai tergelitik untuk melakukan hal yang sama. Mendadak beliau ingin istananya dipindahkan ke atas gunung agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di sekitar. Dan bukankah hal itu tidak mustahil bisa dilakukan karena ada Abu Nawas yang<br />
amat cerdik di negerinya. Abu Nawas segera dipanggil untuk menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid. Setelah Abu Nawas dihadapkan,  Baginda bersabda :</p>
<p>&#8220;Sanggupkah engkau memindahkan istanaku ke atas gunung agar aku lebih leluasa melihat negeriku?&#8221; tanya Baginda.</p>
<p>Abu Nawas tidak langsung menjawab. la berpikir sejenak hingga keningnya berkerut. Tidak mungkin menolak perintah Baginda kecuali kalau memang ingin dihukum. Akhirnya Abu Nawas terpaksa menyanggupi proyek raksasa itu. Ada satu lagi permintaan dari Baginda,  pekerjaan itu harus selesai hanya dalam waktu sebulan.<br />
Abu Nawas pulang dengan hati masgul.  Setiap malam ia hanya berteman dengan rembulan dan bintang-bintang. Hari-hari dilewati dengan kegundahan. Tak ada hari yang lebih berat dalam hidup Abu Nawas kecuali hari-hari<br />
ini. Tetapi pada hari kesembilan ia tidak lagi merasa gundah gulana.<br />
Keesokan harinya Abu Nawas menuju istana.  la menghadap Baginda untuk membahas pemindahan istana. Dengan senang hati Baginda akan mendengarkan, apa yang diinginkan Abu Nawas.<br />
&#8220;Ampun Tuariku, hamba datang ke sini hanya untuk mengajukan usul untuk memperlancar pekerjaan hamba nanti.&#8221; kata Abu Nawas.<br />
&#8220;Apa usul itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hamba akan memindahkan istana Paduka yang mulia tepat pada Hari Raya Idul Qurban yang kebetulan hanya kurang dua puluh hari lagi.&#8221;<br />
&#8220;Kalau hanya itu usulmu, baiklah.&#8221; kata Baginda.<br />
&#8220;Satu lagi Baginda&#8230;.. &#8221; Abu Nawas menambahkan.<br />
&#8220;Apa lagi?&#8221; tanya Baginda.<br />
&#8220;Hamba mohon Baginda menyembelih sepuluh ekor sapi yang gemuk untuk dibagikan langsung kepada para fakir miskin.&#8221; kata Abu Nawas.<br />
&#8220;Usulmu kuterima.&#8221; kata Baginda menyetujui.Abu Nawas pulang dengan perasaan riang gembira. Kini tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Toh nanti bila waktunya sudah tiba, ia pasti akan dengan mudah memindahkan istana<br />
Baginda Raja. Jangankan hanya memindahkan ke puncak gunung, ke dasar samudera pun Abu Nawas sanggup.<br />
Desas-desus mulai tersebar ke seluruh pelosok negeri. Hampir semua orang harap-harap cemas. Tetapi sebagian besar rakyat merasa yakin atas kemampuan Abu Nawas.  Karena selama ini Abu Nawas belum pernah gagal melaksanakan tugas-tugas aneh yang dibebankan di atas pundaknya. Namun ada beberapa orang yang meragukan keberhasilan Abu Nawas kali ini.<br />
Saat-saat yang dinanti-nantikan tiba. Rakyat berbondong-bondong menuju lapangan untuk melakukan salat Hari Raya Idul Qurban. Dan seusai salat, sepuluh sapi sumbangan Baginda Raja disembelih lalu dimasak kemudian segera<br />
dibagikan kepada fakir miskin.<br />
Kini giliran Abu Nawas yang harus melaksanakan tugas berat itu. Abu Nawas berjalan menuju istana diikuti oleh rakyat. Sesampai di depan istana Abu Nawas bertanya kepada Baginda Raja,<br />
&#8220;Ampun Tuanku yang mulia, apakah istana sudah tidak ada orangnya lagi?&#8221;<br />
&#8220;Tidak ada.&#8221; jawab Baginda Raja singkat.<br />
Kemudian Abu Nawas berjalan beberapa langkah mendekati istana. la berdiri sambil memandangi istana. Abu Nawas berdiri mematung seolah-olah ada yang ditunggu.. Baginda Raja akhirnya tidak sabar</p>
<p>.<br />
&#8220;Abu Nawas, mengapa engkau belum juga mengangkat istanaku?&#8221; tanya Baginda Raja.</p>
<p>&#8220;Hamba sudah siap sejak tadi Baginda.&#8221; kata Abu Nawas.<br />
&#8220;Apa maksudmu engkau sudah siap sejak tadi? Kalau engkau sudah siap. Lalu apa yang engkau tunggu?&#8221; tanya Baginda masih diliputi perasaan heran.<br />
&#8220;Hamba menunggu istana Paduka yang mulia diangkat oleh seluruh rakyat yang hadir untuk diletakkan di atas pundak hamba. Setelah itu hamba tentu akan memindahkan istana Paduka yang mulia ke atas gunung sesuai dengan titah<br />
Paduka.&#8221;<br />
Baginda Raja Harun Al Rasyid terpana. Beliau tidak menyangka Abu Nawas masih bisa keluar dari lubang jarum.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cemenk-cantique.com/pekerjaan-yang-mustahil/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengecoh Monyet</title>
		<link>http://cemenk-cantique.com/mengecoh-monyet</link>
		<comments>http://cemenk-cantique.com/mengecoh-monyet#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 13:26:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cemenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah 1001 malam]]></category>
		<category><![CDATA[abu nawas]]></category>
		<category><![CDATA[ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[binatang]]></category>
		<category><![CDATA[ingin tahu]]></category>
		<category><![CDATA[memancing]]></category>
		<category><![CDATA[monyet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cemenk-cantique.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Abu Nawas sedang berjalan-jalan santai. Ada kerumunan masa. Abu Nawas bertanya kepada seorang kawan yang kebetulan berjumpa di tengah jalan.
&#8220;Ada kerumunan apa di sana?&#8221; tanya Abu Nawas.
&#8220;Pertunjukkan keliling yang melibatkan monyet ajaib.&#8221;
&#8220;Apa maksudmu dengan monyet ajaib?&#8221; kata Abu Nawas ingin tahu.
&#8220;Monyet yang bisa mengerti bahasa manusia, dan yang lebih menakjubkan adalah monyet itu hanya mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu Nawas sedang berjalan-jalan santai. Ada kerumunan masa. Abu Nawas bertanya kepada seorang kawan yang kebetulan berjumpa di tengah jalan.<br />
&#8220;Ada kerumunan apa di sana?&#8221; tanya Abu Nawas.<br />
&#8220;Pertunjukkan keliling yang melibatkan monyet ajaib.&#8221;<br />
&#8220;Apa maksudmu dengan monyet ajaib?&#8221; kata Abu Nawas ingin tahu.<br />
&#8220;Monyet yang bisa mengerti bahasa manusia, dan yang lebih menakjubkan adalah monyet itu hanya mau tunduk kepada pemiliknya saja.&#8221; kata kawan Abu Nawas menambahkan.<br />
Abu Nawas makin tertarik. la tidak tahan untuk menyaksikan kecerdikan dan keajaiban binatang raksasa itu. Kini Abu Nawas sudah berada di tengah kerumunan para penonton. Karena begitu banyak penonton yang menyaksikan pertunjukkan itu, sang pemilik monyet dengan bangga menawarkan hadiah yang cukup besar bagi siapa saja<br />
yang sanggup membuat monyet itu mengangguk-angguk.Tidak heran bila banyak diantara para penonton mencoba maju satu persatu. Mereka berupaya dengan beragam cara untuk membuat monyet itu mengangguk-angguk, tetapi sia-sia. Monyet itu tetap menggeleng-gelengkan kepala.<br />
Melihat kegigihan monyet itu Abu Nawas semakin penasaran. Hingga ia maju untuk mencoba. Setelah berhadapan dengan binatang itu Abu Nawas bertanya,<br />
&#8220;Tahukah engkau siapa aku?&#8221; Monyet itu menggeleng.<br />
&#8220;Apakah engkau tidak takut kepadaku?&#8221; tanya Abu Nawas lagi. Namun monyet itu tetap menggeleng.<br />
&#8220;Apakah engkau takut kepada tuanmu?&#8221; tanya Abu Nawas memancing. Monyet itu mulai ragu.<br />
&#8220;Bila engkau tetap diam maka akan aku laporkan kepada tuanmu.&#8221; lanjut Abu Nawas mulai mengancam. Akhirnya monyet itu terpaksa mengangguk-angguk.<br />
Atas keberhasilan Abu Nawas membuat monyet itu mengangguk-angguk maka ia mendapat hadiah berupa uang yang banyak. Bukan main marah pemilik monyet itu hingga ia memukuli binatang yang malang itu. Pemilik monyet itu malu<br />
bukan kepalang. Hari berikutnya ia ingin menebus kekalahannya. Kali ini ia melatih monyetnya mengangguk-angguk.<br />
Bahkan ia mengancam akan menghukum berat monyetnya bila sampai bisa dipancing penonton mengangguk-angguk terutama oleh Abu Nawas. Tak peduli apapun pertanyaan yang diajukan.</p>
<p>Saat-saat yang dinantikan tiba. Kini para penonton yang ingin mencoba, harus sanggup membuat monyet itu menggeleng-gelengkan kepala. Maka seperti hari sebelumnya, banyak para penonton tidak sanggup memaksa monyet itu menggeleng-gelengkan kepala. Setelah tidak ada lagi yang ingin mencobanya, Abu Nawas maju. la mengulang pertanyaan yang sama.<br />
&#8220;Tahukah engkau siapa daku?&#8221; Monyet itu mengangguk.<br />
&#8220;Apakah engkau tidak takut kepadaku?&#8221; Monyet itu tetap mengangguk.<br />
&#8220;Apakah engkau tidak takut kepada tuanmu?&#8221; pancing Abu Nawas. Monyet itu tetap mengangguk karena binatang itu lebih takut terhadap ancaman tuannya daripada Abu Nawas.<br />
Akhirnya Abu Nawas mengeluarkan bungkusan kecil berisi balsam panas.<br />
&#8220;Tahukah engkau apa guna balsam ini?&#8221; Monyet itu tetap mengangguk .<br />
&#8220;Baiklah, bolehkah kugosok selangkangmu dengan balsam?&#8221; Monyet itu mengangguk.<br />
Lalu Abu Nawas menggosok selangkang binatang itu. Tentu saja monyet itu merasa agak kepanasan dan mulai-panik.<br />
Kemudian Abu Nawas mengeluarkan bungkusan yang cukup besar. Bungkusan itu juga berisi balsam.<br />
&#8220;Maukah engkau bila balsam ini kuhabiskan untuk menggosok selangkangmu?&#8221;<br />
Abu Nawas mulai mengancam. Monyet itu mulai ketakutan. Dan rupanya ia lupa ancaman tuannya sehingga ia terpaksa menggeleng-gelengkan kepala sambil mundur beberapa langkah.</p>
<p>Abu Nawas dengan kecerdikan dan akalnya yang licin mampu memenangkan sayembara meruntuhkan kegigihan monyet yang dianggap cerdik.Ah, jangankan seekor monyet, manusia paling pandai saja bisa dikecoh Abu Nawas!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cemenk-cantique.com/mengecoh-monyet/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Botol Ajaib</title>
		<link>http://cemenk-cantique.com/botol-ajaib</link>
		<comments>http://cemenk-cantique.com/botol-ajaib#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 22:12:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cemenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah 1001 malam]]></category>
		<category><![CDATA[abu nawas]]></category>
		<category><![CDATA[ajaib]]></category>
		<category><![CDATA[aneh]]></category>
		<category><![CDATA[hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[putus asa]]></category>
		<category><![CDATA[uang emas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cemenk-cantique.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada henti-hentinya. Tidak ada kapok-kapoknya, Baginda selalu memanggil Abu Nawas untuk dijebak dengan berbagai pertanyaan atau tugas yang aneh-aneh. Hari ini Abu Nawas juga dipanggil ke istana .Setelah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu Nawas dengan sebuah senyuman.
&#8220;Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku kena serangan angin.&#8221; kata Baginda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak ada henti-hentinya. Tidak ada kapok-kapoknya, Baginda selalu memanggil Abu Nawas untuk dijebak dengan berbagai pertanyaan atau tugas yang aneh-aneh. Hari ini Abu Nawas juga dipanggil ke istana .Setelah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu Nawas dengan sebuah senyuman.<br />
&#8220;Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku kena serangan angin.&#8221; kata Baginda Raja memulai pembicaraan.<br />
&#8220;Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil.&#8221; tanya Abu Nawas.<br />
&#8220;Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya.&#8221; kata Baginda.</p>
<p>Abu Nawas hanya diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. la tidak memikirkan bagaimana cara menangkap angin nanti tetapi ia masih bingung bagaimana cara membuktikan bahwa yang ditangkap itu memang benar-benar angin.Karena angin tidak bisa dilihat. Tidak ada benda yang lebih aneh dari angin. Tidak seperti halnya air walaupun tidak berwarna tetapi masih bisa dilihat.</p>
<p>Sedangkan angin tidak. Baginda hanya memberi Abu Nawas waktu tidak lebih dari tiga hari. Abu Nawas pulang  membawa pekerjaan rumah dari Baginda Raja. Namun Abu Nawas tidak begitu sedih. Karena berpikir sudah merupakan bagian dari hidupnya, bahkan merupakan suatu kebutuhan. la yakin bahwa dengan berpikir akan terbentang jalan keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi. Dan dengan berpikir pula ia yakin bisa menyumbangkan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan terutama orang-orang miskin. Karena tidak jarang Abu Nawas menggondol sepundi penuh uang emas hadiah dari Baginda Raja atas kecerdikannya. Tetapi sudah dua hari ini Abu Nawas belum juga mendapat akal untuk menangkap angin apalagi memenjarakannya. Sedangkan besok adalah hari</p>
<p>terakhir yang telah ditetapkan Baginda Raja. Abu Nawas hampir putus asa. Abu Nawas benar-benar tidak bisa tidur walau hanya sekejap. Mungkin sudah takdir, kayaknya kali ini Abu Nawas harus menjalani hukuman karena gagal melaksanakan perintah Baginda. la berjalan gontai menuju istana. Di sela-sela kepasrahannya kepada takdir ia ingat sesuatu, yaitu Aladin dan lampu wasiatnya.<br />
&#8220;Bukankah jin itu tidak terlihat?&#8221; Abu Nawas bertanya kepada diri sendiri. la berjingkrak girang dan segera berlari pulang. Sesampai di rumah ia secepat mungkin menyiapkan segala sesuatunya kemudian menuju istana. Di pintu<br />
gerbang istana Abu Nawas langsung dipersilahkan masuk oleh para pengawal karena Baginda sedang menunggu kehadirannya. Dengan tidak sabar Baginda langsung bertanya kepada Abu Nawas.</p>
<p>&#8220;Sudahkah engkau berhasil memenjarakan angin, hai Abu Nawas?&#8221;<br />
&#8220;Sudah Paduka yang mulia.&#8221; jawab Abu Nawas dengan muka berseri-seri sambil  mengeluarkan botol yang sudah disumbat. Kemudian Abu Nawas menyerahkan botol itu. Baginda menimang-nimang botol itu.<br />
&#8220;Mana angin itu, hai Abu Nawas?&#8221; tanya Baginda.<br />
&#8220;Di dalam, Tuanku yang mulia.&#8221; jawab Abu Nawas penuh takzim.<br />
&#8220;Aku tak melihat apa-apa.&#8221; kata Baginda Raja.<br />
&#8220;Ampun Tuanku, memang angin tak bisa dilihat, tetapi bila Paduka ingin tahu angin, tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu.&#8221; kata Abu Nawas menjelaskan. Setelah tutup botol dibuka Baginda mencium bau busuk. Bau kentut   yang begitu menyengat hidung.</p>
<p>&#8220;Bau apa ini, hai Abu Nawas?!&#8221; tanya Baginda marah.</p>
<p>&#8220;Ampun Tuanku yang mulia, tadi hamba buang angin dan hamba masukkan ke dalam botol. Karena hamba takut angin yang hamba buang itu keluar maka hamba memenjarakannya dengan cara menyumbat mulut botol.&#8221; kata Abu Nawas<br />
ketakutan.<br />
Tetapi Baginda tidak jadi marah karena penjelasan Abu Nawas memang masuk akal. Dan untuk kesekian kali Abu Nawas selamat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cemenk-cantique.com/botol-ajaib/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cirine Wong Soko Entute</title>
		<link>http://cemenk-cantique.com/cirine-wong-soko-entute</link>
		<comments>http://cemenk-cantique.com/cirine-wong-soko-entute#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 10:42:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cemenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[banyu]]></category>
		<category><![CDATA[cirine]]></category>
		<category><![CDATA[goblog]]></category>
		<category><![CDATA[jero]]></category>
		<category><![CDATA[katutan]]></category>
		<category><![CDATA[kontrol diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cemenk-cantique.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[1) Wong sing ORA JUJUR : Wong sing nek  ngentut terus nyalahke wong liya.
2) Wong GOBLOG : Wong sing ngempet ngentut  sampai jam-jam an.
3) Wong sing JEMBAR WAWASANE : Wong sing  ngerti kapan kudu ngentut.
4) Wong sing SENGSARA : Wong sing pengin  banget ngentut ning ora isa ngentut.
5) Wong sing MISTERIUS : Wong sing nek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1) Wong sing ORA JUJUR : Wong sing nek  ngentut terus nyalahke wong liya.<br />
2) Wong GOBLOG : Wong sing ngempet ngentut  sampai jam-jam an.<br />
3) Wong sing JEMBAR WAWASANE : Wong sing  ngerti kapan kudu ngentut.<br />
4) Wong sing SENGSARA : Wong sing pengin  banget ngentut ning ora isa ngentut.<br />
5) Wong sing MISTERIUS : Wong sing nek ngentut  ora konangan wong liyane.<br />
6) Wong sing GUGUPAN : Wong sing ujug-ujug  nyetop entute nek pas lagi ngentut.<br />
7) Wong sing PERCAYA DIRI (PD) : Wong sing  ngira nek entute dhewe ambune mesti wangi.<br />
8)Cool Wong sing KEJEM (SADIS) : Wong sing nek  ngentut terus dikibaske nyang kancane.<br />
9) Wong sing ISINAN : Wong sing nek ngentut  terus kisinan dhewe.<br />
10)Wong sing STRATEGIS : Wong sing nek  ngentut neng ngarepe wong liya isa karo  nylamurke entute nganti wong liyane mau ora kepikiran maneh.<br />
11)Wong sing BODHO : Wong sing nek bar  ngentut terus ambegan sak puas-puase (jero-jero),  kanggo ngganti entute sing wis kadhung metu.<br />
12)Wong sing GEMI : Wong sing nek ngentut  metune diatur sethithik-sethithik.<br />
13)Wong sing SOMBONG : Wong sing seneng  ngambu entute dhewe.<br />
14)Wong sing RAMAH : Wong sing seneng  ngambu entute wong liya.<br />
15)Wong sing ORA RAMAH : Wong sing nek  ngentut malah mendhelik lan ngamuk-ngamuk.<br />
16)Wong sing KEKANAK-KANAKAN : Wong sing  senenge ngentut ing jero banyu ben isa ngematke  unine blekuthuk-blekuthuk.<br />
17)Wong sing ATLETIS : Wong sing nek ngentut<br />
karo ngeden.<br />
18)Wong JUJUR : Wong sing ngakoni nek dheweke bar ngentut.<br />
19)Wong PINTER : Wong sing iso niteni ambune entut wong liyane.<br />
20)Wong SIAL : Wong sing dientuti terus karo wong liya.<br />
21)Wong sing KURANG KONTROL DIRI : Wong sing nek ngentut mesthi katutan ampase.<br />
22)Wong sing ORA IKHLAS : Ora gelem ngambu entute dewe, Ning nek ana wong liya sing ngambu muring- muring.<br />
23)Wong sing GEMI :Wong sing menawa ngentut metune swara entut di endhat- endhat dadi ping 7.<br />
24)Wong sing SOK AMAL : Wong sing menawa ngentut, metune di brolke, sak ampase.<br />
25)Wong RA NGGENAH : Angger ngentut silite ditempeli terompet, ben sangsaya banter swarane.<br />
26)Wong RA UMUM : Yen ngentut dilagokake kaya tembangan.<br />
27)Wong PENSIUNAN PRAJURIT : Yen ngentut  dipenggak-penggak, kareben swarane kadya unining bedil.<br />
28)Wong RA SABARAN : Wis ngueden methuthut ra muni entute malah brole sing metu.<br />
29)Wong SOLO/YOGYA (mohon maaf) : Entute aluuun banget, dawa lan sajak ndandang gulo.<br />
30)Wong RADUWE GAWEAN : Ndiskusekke soalnentut (kayata sing maca).<br />
31)Wong GENDHENG: Wong sing ngamati ciri-cirine wong liya saka carane ngentut!!</p>
<p><em>di kutip dari berbagai sumber</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cemenk-cantique.com/cirine-wong-soko-entute/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melihat Karakter Seseorang dari Cara Ngupil</title>
		<link>http://cemenk-cantique.com/melihat-karakter-seseorang-dari-cara-ngupil</link>
		<comments>http://cemenk-cantique.com/melihat-karakter-seseorang-dari-cara-ngupil#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 13:51:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cemenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[jari kaki]]></category>
		<category><![CDATA[ke atas]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>
		<category><![CDATA[selang]]></category>
		<category><![CDATA[sopan santun]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cemenk-cantique.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[1.Orang yang taat beragama, Berdoa dulu sebelum ngupil
2. Orang yang tidak berpendidikan, Menggunakan jari orang lain untuk ngupil.
3. Orang yang suka ganti suasana, Selalu menggunakan jari yang berbeda tiap kali ngupil
4. Orang yang menganggap waktu adalah uang, Kalo ngupil, 2 lobang sekaligus (Sekali mendayung, 2 pulau terlampaui)
5. Orang yang perfeksionis, Kalo mau ngupil ia mencuci [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.Orang yang taat beragama, Berdoa dulu sebelum ngupil</p>
<p>2. Orang yang tidak berpendidikan, Menggunakan jari orang lain untuk ngupil.</p>
<p>3. Orang yang suka ganti suasana, Selalu menggunakan jari yang berbeda tiap kali ngupil</p>
<p>4. Orang yang menganggap waktu adalah uang, Kalo ngupil, 2 lobang sekaligus (Sekali mendayung, 2 pulau terlampaui)</p>
<p>5. Orang yang perfeksionis, Kalo mau ngupil ia mencuci tangannya sampai bersih. Setelah ngupil, tangannya dicuci lagi, dan hidungnya dikompres dengan alkohol, untuk mencegah terjadinya infeksi karena saat ngupil, bisa saja jari tangan melukai hidung</p>
<p>6. Orang yang berlibido tinggi, Saat ngupil, jarinya di masukkan dan dikeluarkan dan dimasukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan di masukkan dan dikeluarkan dan dimasukkan dan dikeluarkan sampai keluar lendir.</p>
<p>7. Orang yang tidak berpendidikan tapi punya sopan santun, Menggunakan jari orang lain untuk ngupil, dan mengucapkan terima kasih setelah selesai.</p>
<p>8. Orang yang inovatif, Menggunakan jari kaki untuk ngupil</p>
<p>9. Orang berjiwa samurai, Saat ngupil, jari dimasukkan ke hidung, ditarik ke atas, diturunkan kebawah,tarik ke kiri kemudian tarik ke kanan.</p>
<p>10. Orang yang suka petualangan, Selalu mencoba untuk meraih celah yang tak pernah diraih tiap kali ngupil.</p>
<p>11. Orang yang mempunyai time-management yang tinggi, Ada jadwal tuk ngupil per minggu, dan selang waktu untuk ngupil tiap kali ngupil</p>
<p>12. Orang yang bagaikan punguk merindukan bulan, Mencoba untuk melompat lompat, dan mengharapkan upilnya akan turun dengan sendirinya.</p>
<p>13. Orang yang punya kecenderungan “Psychopath” , Hanya akan berhenti ngupil setelah hidungnya berdarah.</p>
<p>14. Orang yang nggak tahan digelitik, Sambil ngupil, sambil tertawa.</p>
<p>15. Orang yang mengikuti perkembangan teknologi, Ngupil dengan memakai antenna handphone.</p>
<p>16. Orang yang nggak mau menghabiskan waktu untuk melakukan hal sia-sia, Membuka lebar hidungnya dan menyuruh orang lain untuk mengintip apakah ada upil di dalam, karena nggak mau sia-sia masukin jari ke hidung tapi ternyata nggak ada upil.</p>
<p>17. Orang yang berjiwa oriental, Menggunakan sumpit untuk ngupil</p>
<p>18. Orang yang pilih kasih, Hanya ngupil lobang hidung sebelah kiri, sedangkan yang kanan dibiarkan begitu saja.</p>
<p>19. Orang yang adil, arif dan bijaksana, Kalo upil dari lobang hidung sebelah kiri lebih banyak dibanding upil dari hidung sebelah kanan, maka dia akan masukkan sedikit upil dari lobang hidung sebelah kiri kedalam lobang hidung sebelah kanan, baru mulai ngupil lagi</p>
<p>20. Orang yang plin plan, alias baru makan buah simalakama, Ngupil salah, nggak ngupil salah, ngupil salah, nggak ngupil salah</p>
<p>21. Orang yang latah, Saat kuku tangan tanpa sengaja melukai hidung, maka dia akan berteriak “EH MAMA KU UPIL EH UPIL KU MAMA”</p>
<p>22. Orang yang pelupa, Saat jari tangan sudah di dalam hidung, sesaat dia lupa apa yang ingin dia lakukan dengan memasukkan jari ke hidung.</p>
<p>23. Orang yang ceroboh, Orang yang setelah selesai ngupil lobang hidung sebelah kiri, kemudian lupa untuk ngupil lobang hidung sebelah kanan.</p>
<p>24. Orang yang punya kecenderungan “Copy Cat”, Setelah ngupil, dia akan berkata; “Ngupil? Siapa takut…&#8221;</p>
<p><em><br />
dikutip dari berbagai sumber</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cemenk-cantique.com/melihat-karakter-seseorang-dari-cara-ngupil/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi</title>
		<link>http://cemenk-cantique.com/abu-nawas-mendemo-tuan-kadi</link>
		<comments>http://cemenk-cantique.com/abu-nawas-mendemo-tuan-kadi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 11:06:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cemenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah 1001 malam]]></category>
		<category><![CDATA[abu nawas]]></category>
		<category><![CDATA[datang ke]]></category>
		<category><![CDATA[hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[kahwa]]></category>
		<category><![CDATA[orang kampung]]></category>
		<category><![CDATA[pulanglah]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cemenk-cantique.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Ada dua orang tamu datang ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab mereka.
&#8220;Sekarang pulanglah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Ada dua orang tamu datang ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab mereka.</p>
<p>&#8220;Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku pada malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta batu.&#8221;</p>
<p>Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan berada di pihak yang benar. Pada malam harimya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.</p>
<p>Berkata Abu Nawas,&#8221;Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak Tuan Kadi yang baru jadi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?&#8221; gumam semua muridnya keheranan</p>
<p>&#8220;Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!&#8221; kata Abu Nawas menghapus keraguan murid-muridnya. Barangsiapa yang mencegahmu, jangan kau perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa yang bertanya, katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barangsiapa yang hendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan iemparilah dengan batu.&#8221;</p>
<p>Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah Tuan Kadi. Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi. Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakukan mereka. Lebih-lebih ketikatanpa basa-basi lagi mereka iangsung merusak rumah Tua Kadi. Orang-orang kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah murid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani mencegah. Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan bertanya:</p>
<p>,&#8221;Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?&#8221;</p>
<p>Murid-murid itu menjawab,&#8221;Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami!&#8221;</p>
<p>Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah. Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak orang yang berani membelanya</p>
<p>&#8220;Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya kepada Baginda.&#8221;<br />
Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu Nawas dipanggil menghadap Baginda. Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya.</p>
<p>&#8220;Hai Abu Nawas apa sebabnya kau merusak rumah Kadi itu&#8221;</p>
<p>Abu Nawas menjawab,&#8221;Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada sliatu malam hamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya. Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus lagi.Ya, karena mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi.&#8221;</p>
<p>Baginda berkata,&#8221; Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?&#8221;</p>
<p>Dengan tenang Abu Nawas menjawab,&#8221;Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi yang baru ini Tuanku.&#8221;</p>
<p>Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. laterdiam seribu bahasa.</p>
<p>&#8220;Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?&#8221; tanya Baginda.</p>
<p>Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran  karena takut.</p>
<p>&#8220;Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti ini !&#8221; perintah Baginda.</p>
<p>&#8220;Baiklah &#8230;&#8230; &#8220;Abu Nawas tetap tenang. &#8220;Baginda&#8230;. beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpi kawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. Ini hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda Mesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di sinilah<br />
terlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik pemuda Mesir sehingga pemuda  itu menjadi seorang pengemis gelandangan dana khirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa.&#8221;</p>
<p>Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu kehadapan Baginda.</p>
<p>Berkata Baginda Raja,&#8221;Hai anak Mesir ceritakanlah hal-ihwal dirimu sejak engkau datang ke negeri ini.&#8221;</p>
<p>Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itu juga membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia menginap.</p>
<p>&#8220;Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad moralnya.&#8221;</p>
<p>Baginda sangat murka. Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanya di rampas dan diberikan kepada  si pemuda Mesir. Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas pulang ke rumahnya. Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas.</p>
<p>Berkata Abu Nawas,&#8221;Janganlah engkau memberiku barang sesuatupun kepadaku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun jua.&#8221;<br />
Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke negeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cemenk-cantique.com/abu-nawas-mendemo-tuan-kadi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia Bertelur</title>
		<link>http://cemenk-cantique.com/manusia-bertelur</link>
		<comments>http://cemenk-cantique.com/manusia-bertelur#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 08:11:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cemenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah 1001 malam]]></category>
		<category><![CDATA[abu nawas]]></category>
		<category><![CDATA[air hangat]]></category>
		<category><![CDATA[bangsawan]]></category>
		<category><![CDATA[kira kira]]></category>
		<category><![CDATA[masih ada]]></category>
		<category><![CDATA[putus asa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cemenk-cantique.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Sudah bertahun-tahun Baginda Raja Harun Al Rasyid ingin mengalahkan AbuNawas. Namun perangkap-perangkap yang selama ini dibuat semua bisa diatasi dengan cara-cara yang cemerlang oleh Abu Nawas. Baginda Raja tidak putus asa. Masih ada puluhan jaring muslihat untuk menjerat Abu Nawas.
Baginda Raja beserta para menteri sering mengunjungi tempat pemandian air hangat yang hanya dikunjungi para pangeran, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah bertahun-tahun Baginda Raja Harun Al Rasyid ingin mengalahkan AbuNawas. Namun perangkap-perangkap yang selama ini dibuat semua bisa diatasi dengan cara-cara yang cemerlang oleh Abu Nawas. Baginda Raja tidak putus asa. Masih ada puluhan jaring muslihat untuk menjerat Abu Nawas.<br />
Baginda Raja beserta para menteri sering mengunjungi tempat pemandian air hangat yang hanya dikunjungi para pangeran, bangsawan dan orang-orang terkenal. Suatu sore yang cerah ketika Baginda Raja beserta para menterinya berendam di kolam, beliau berkata kepada para menteri :</p>
<p>&#8220;Aku punya akal untuk menjebak Abu Nawas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah itu wahai Paduka yang mulia ?&#8221; tanya salah seorang menteri.</p>
<p>&#8220;Kalian tak usah tahu dulu. Aku hanya menghendaki kalian datang lebih dini besok sore. Jangan lupa datanglah besok sebelum Abu Nawas datang karena aku akan mengundangnya untuk mandi bersama-sama kita.&#8221; kata Baginda Raja memberi pengarahan. Baginda Raja memang sengaja tidak menyebutkan tipuan apa yang akan digelar besok.</p>
<p>Abu Nawas diundang untuk mandi bersama Baginda Raja dan para menteri di pemandian air hangat yang terkenal itu.Seperti yang telah direncanakan, Baginda Raja dan para meriteri sudah datang lebih dahulu. Baginda membawa sembilan belas butir telur ayam. Delapan belas butir dibagikan kepada para menterinya. Satu butir untuk dirinya sendiri. Kemudian Baginda memberi pengarahan singkat tentang apa yang telah direncanakan untuk menjebak Abu Nawas.<br />
Ketika Abu Nawas datang, Baginda Raja beserta para menteri sudah berendam di kolam. Abu Nawas melepas pakaian dan langsung ikut berendam. Abu Nawas harap-harap cemas. Kira-kira permainan apa lagi yang akan dihadapi. Mungkin permainan kali ini lebih berat karena Baginda Raja tidak memberi tenggang waktu untuk berpikir.<br />
Tiba-tiba Baginda Raja membuyarkan lamunan Abu Nawas. Beliau berkata,</p>
<p>&#8220;HaiAbu Nawas, aku mengundangmu mandi bersama karena ingin mengajak engkau ikut dalam permainan kami&#8221;</p>
<p>&#8220;Permainan apakah itu Paduka yang mulia ?&#8221; tanya Abu Nawas belum mengerti.</p>
<p>&#8220;Kita sekali-kali melakukan sesuatu yang secara alami hanya bisa dilakukan olehnbinatang. Sebagai manusia kita mesti bisa dengan cara kita masing-masing.&#8221; kata Baginda sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Hamba belum mengerti Baginda yang mulia.&#8221; kata Abu Nawas agak ketakutan.</p>
<p>&#8220;Masing-masing dari kita harus bisa bertelur seperti ayam dan barang siapa yang tidak bisa bertelur maka ia harus dihukum!&#8221; kata Baginda.</p>
<p>Abu Nawas tidak berkata apa-apa.Wajahnya nampak murung. la semakin yakin dirinya tak akan bisa lolos dari lubang jebakan Baginda dengan mudah. Melihat wajah Abu Nawas murung, wajah Baginda Raja semakin berseri-seri.</p>
<p>&#8220;Nah  sekarang apalagi yang kita tunggu. Kita menyelam lalu naik ke atas sambil menunjukkan telur kita masing-masing.&#8221; perintah Baginda Raja.</p>
<p>Baginda Raja dan para menteri mulai menyelam, kemudian naik ke atas satu persatu derigan menanting sebutir telur ayam. Abu Nawas masih di dalam kolam. ia tentu saja tidak sempat mempersiapkan telur karena ia memang tidak tahu kalau ia diharuskan bertelur seperti ayam. Kini Abu Nawas tahu kalau Baginda Raja dan para menteri telah mempersiapkan telur masing-masing satu butir. Karena belum ada seorang manusia pun yang bisa bertelur dan tidak akan pernah ada yang bisa.Karena dadanya mulai terasa sesak. Abu Nawas cepat-cepat muncul ke permukaan kemudian naik ke atas. Baginda Raja langsung mendekati Abu<br />
Nawas. Abu Nawas nampak tenang, bahkan ia berlakau aneh, tiba-tiba saja ia mengeluarkan suara seperti ayam jantan berkokok, keras sekali sehingga Baginda dan para menterinya merasa heran.</p>
<p>&#8220;Ampun Tuanku yang mulia. Hamba tidak bisa bertelur seperti Baginda dan para menteri.&#8221; kata Abu Nawas sambil membungkuk hormat.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu engkau harus dihukum.&#8221; kata Baginda bangga.</p>
<p>&#8220;Tunggu dulu wahai Tuanku yang mulia.&#8221; kata Abu Nawas memohon.</p>
<p>&#8220;Apalagi hai Abu Nawas.&#8221; kata Baginda tidak sabar.</p>
<p>&#8220;Paduka yang mulia, sebelumnya ijinkan hamba membela diri. Sebenarnya kalau hamba mau bertelur, hamba tentu mampu. Tetapi hamba merasa menjadi ayam jantan maka hamba tidak bertelur. Hanya ayam betina saja yang bisa bertelur. Kuk kuru yuuuuuk&#8230;!&#8221; kata Abu Nawas dengan membusungkan dada.</p>
<p>Baginda Raja tidak bisa berkata apa-apa. Wajah Baginda dan para menteri yang semula cerah penuh kemenangan kini mendadak berubah menjadi merah padam karena malu. Sebab mereka dianggap ayam betina.<br />
Abu Nawas memang licin, malah kini lebih licin dari pada belut. Karena merasa malu, Baginda Raja Harun Al Rasyid dan para menteri segera berpakaian dan kembali ke istana tanpa mengucapkan sapatah kata pun.<br />
Memang Abu Nawas yang tampaknya blo&#8217;on itu sebenarnya diakui oleh para ilmuwan sebagai ahli mantiq atau ilmu logika. Gampang saja baginya untuk membolak-balikkan dan mempermainkan kata-kata guna menjatuhkan mental lawan-lawannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cemenk-cantique.com/manusia-bertelur/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pemimpi</title>
		<link>http://cemenk-cantique.com/sang-pemimpi</link>
		<comments>http://cemenk-cantique.com/sang-pemimpi#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 May 2009 09:14:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cemenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Tetralogi laskar pelangi]]></category>
		<category><![CDATA[andrea hirata]]></category>
		<category><![CDATA[laskar pelangi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cemenk-cantique.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Jauh di pedalaman pulau Belitong, tiga orang anak di sebuah kampung Melayu bermimpi untuk melanjutkan sekolah mereka hingga ke Perancis, menjelahi Eropa, bahkan sampai ke Afrika.!
Ikal, Arai, dan Jimbron, merekalah si pemimpi itu, walau bagai punguk merindukan bulan, mereka tak peduli, mereka memiliki tekad baja untuk mewujudkan mimpi mereka, hidup di daerah terpencil, kepahitan hidup, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://tulisanria.files.wordpress.com/2009/03/sang-pemimpi-gdhe12.jpg" alt="" width="205" height="330" />Jauh di pedalaman pulau Belitong, tiga orang anak di sebuah kampung Melayu bermimpi untuk melanjutkan sekolah mereka hingga ke Perancis, menjelahi Eropa, bahkan sampai ke Afrika.!<br />
Ikal, Arai, dan Jimbron, merekalah si pemimpi itu, walau bagai punguk merindukan bulan, mereka tak peduli, mereka memiliki tekad baja untuk mewujudkan mimpi mereka, hidup di daerah terpencil, kepahitan hidup, kemiskinan, bukanlah pantangan bagi mereka untuk bermimpi. Mereka tak menyerah pada nasib dan keadaan mereka, bagi mereka mimpi adalah energi bagi kehidupan mereka masa kini untuk melangkah menuju masa depan yang mereka cita-citakan.</p>
<p>Novel kedua Andrea Hirata “Sang Pemimpi” ini bertutur bagaimana ketiga anak kampung Melayu di kawasan PN Timah Belitong menjalani hari-hari mereka bersama mimpi-mimpinya. Karena masih merupakan kelanjutan dari novel pertamanya Laskar Pelangi, Sang Pemimpi pun masih bertutur mengenai memoar kehidupan Ikal, dalam menapaki kehidupannya.<br />
Jika dalam Laskar Pelangi tokoh Ikal yang ketika SD hingga SMP ditemani oleh kesepuluh teman-temannya yang dinamai Laskar Pelangi, kini Ikal yang telah bersekolah di SMA ditemani oleh dua orang temannya Arai dan Jimbron.</p>
<p>Arai sebenarnya masih memiliki hubungan darah dengan Ikal, kedua orang tuanya meninggal dunia ketika ia masih kecil. Arai tak memiliki saudara kandung sehingga setelah kematian kedua orang tuanya Arai diasuh oleh kedua orang tua Ikal di kampungnya sehingga bagi Ikal, Arai adalah saudara sekaligus sahabat terbaik baginya, Arai memiliki pribadi yang terbuka dan cerdas.<br />
Sedangkan Jimbron adalah sosok rapuh, ia tak secerdas Ikal dan Arai, ia gagap dalam berbicara semenjak kematian ayahnya. Jimbron sangat terobsesi oleh kuda, padahal di kampungnya tak ada seekorpun kuda bisa ditemui, nantinya kisah Jimbron dan obsesinya ini menjadi bagian yang menarik dan lucu pada buku ini Ikal, Arai dan Jimbron memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi, mereka bahu membahu mewujudkan mimpi mereka, saat itu PN Timah Belitong sedang dalam keadaan terancam kolaps, gelombang PHK besar-besaran membuat banyak anak-anak tidak bisa meneruskan sekolah mereka karena orang tuanya tak sanggup membiayai. Mereka yang masih ingin bersekolah harus bekerja.<br />
Demikian juga dengan ketiga pemimpi, begitu tamat SMP mereka ingin tetap melanjutkan sekolah mereka, karena di kampung mereka tak ada SMA, mereka harus merantau ke Magai, 30 kilometer jaraknya dari kampung mereka. Untuk itu mereka tinggal bersama-sama dalam sebuah los kontrakan, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya mereka bekerja mulai dari penyelam di padang golf, office boy di sebuah kantor pemerintah hingga akhirnya bekerja sebagai kuli ngambat, yang bertugas menunggu perahu nelayan tambat dan memikul tangkapan para nelayan itu ke pasar ikan. Menurut hirarki pekerjaan di Magai, kuli tambat adalah pekerjaan yang paling kasar yang hanya akan digeluti oleh mereka yang tekad ingin sekolahnya sekeras tembaga atau mereka yang benar-benar putus asa karena tidak memiliki pekerjaan lain. Hal ini membuktikan bahwa ketiga pemimpi ini memiliki hati yang sekeras tembaga untuk bisa bersekolah untuk mewujudkan mimpi mereka.</p>
<p>Kisah memoar kehidupan Ikal dan kedua sahabatnya dalam mewujudkan impian inilah yang tersaji dalam novel ini. Semua kisahnya tersaji dalam 18 bab yang tidak terlalu panjang, masing-masing memiliki kisahnya sendiri, namun ada juga beberapa bab yang sambung menyambung. Beberapa bab menyuguhkan cerita-cerita yang bersahaja seperti pada bab Baju Safari Ayahku yang mengisahkan bagaimana ayah Ikal yang tak banyak bicara namun begitu mencintai dirinya, hal ini terbukti ketika ayahnya harus mengayuh sepeda sejauh 30 km untuk mengambil rapor ikal dan Arai.<br />
Ketika hari yang ditentukan tiba ayah Ikal bahkan harus bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan dirinya, dikenakannya satu-satunya pakaian Safari empat saku kesayangannya yang telah disetrika dengan rapih, baginya hari itu adalah hari yang terpenting bagi hidupnya.</p>
<p>Kesungguhan hati sang ayah dalam mengambil rapor Ikal dan Arai tak berbuah sia-sia karena mereka masing-masing menduduki rangking ketiga dan kelima. Kisah yang tersaji dalam bab ini sangatlah indah, secara piawai Andrea meramu kalimat-kalimatnya dengan indah sehingga pembaca akan merasakan bagaimana bangganya Ikal memiliki ayah yang begitu mencintainya.<br />
Masih ada beberapa kisah lagi yang menggugah, namun ada juga beberapa kisah lucu yang membuat pembacanya tersenyum dan tertawa terbahak-bahak ketika membaca pengalaman-pengalaman lucu mereka, misalnya pada Bab Bioskop yang menceritakan kisah kenakalan Ikal dan kawan-kawannya ketika secara sembunyi-sembunyi masuk kedalaam gedung bioskop untuk menonton film-film murahan yang mengumbah syahwat.<br />
Tentu saja ini petualangan yang berbahaya karena menonton bioskop merupakan salah satu larangan paling keras dari Pak Mustar, guru mereka. Kisah yang lucu dan seru ini bersambung ke 2 bab berikutnya yaitu Action dan Spiderman. Khusus di Bab Spiderman pembaca akan dibuat tertawa karena obsesi Jimbron terhadap kuda melahirkan sebuah kisah yang lucu dengan ending yang membuat pembaca tertawa terbahak-bahak.<br />
Selain itu Andrea pun dengan jiwa yang besar melakukan otokritik terhadap kaumnya, suku Melayu. Diwakili oleh tokoh pengusaha kaya di kampungnya Capo Lam Pet Nyo, Andrea mengkritik habis perilaku suku melayu yang ditulisnya sebagai orang yang manja karena bergantung pada keberadaan PN Timah, banyak teori, sok pintar walau baru sedikit ilmunya, sombong walau hanya memiliki sedikit harta, dll.<br />
Otokritiknya ini ditutup dengan kalimat lugas yang keluar dari mulut Capo Lam Pet Nyo “Kalau timah tak laku, kalian orang Melayu mati…” (hlm164).</p>
<p>Masih banyak peristiwa-peristiwa yang menarik yang dialami oleh Ikal dan kedua kawannya. Kesemua peristiwa yang mereka alami tak ubahnya seperti potongan-potongan mozaik, walau awalnya seperti terserak seakan berdiri sendiri, namun jika disatukan akan akan membentuk sebuah pemandangan yang indah yang dalam konteks buku ini akan menuju suatu bentuk wujud dari impian besar mereka.</p>
<p>Sayang, ketika potongan mozaik yang menceritakan ketika Ikal telah memasuki bangku kuliah tidak tereskplorasi dengan baik., kalimat “Tak terasa aku telah menyelesaikan kuliahku” (hlm 250) seolah memberi alasan bagi Andrea untuk beralih ke kisah selanjutnya, atau mungkin mozaik ini akan muncul di buku berikutnya ? Semoga saja demikian. Buku ini diakhiri dengan kisah Ikal dan Arai kembali ke kampungnya sambil menanti keputusan dari kampus mereka apakah mereka diijinkan untuk melanjutkan riset ke luar negeri atau tidak.</p>
<p>Berhasilkah Ikal, Arai dan Jimbron mewujudkan mimpi mereka untuk menjejakkan kaki mereka hingga ke Sorbrone – Perancis ? Jawabannya akan pembaca temui dalam bab-bab terakhir di buku ini.<br />
Walau memiliki banyak hal yang menarik dalam buku ini, ada sedikit kejanggalan yang mungkin akan dirasakan oleh pembaca.<br />
Pada cover depan buku ini tertulis bahwa Sang Pemimpi adalah “Buku Kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi” bukan tak mungkin pembaca Laskar Pelangi akan menyangka bahwa buku kedua Andrea ini masih menceritakan kehidupan tokoh Ikal bersama pasukan Laskar Pelanginya, sayangnya anggota Laskar Pelangi yang begitu kompak dan menemani masa-masa indah ikal sewaktu SD hingga SMP tak terceritakan lagi dalam Sang Pemimpi, dari 18 bab, hanya sekali Laskar Pelangi disinggung, itupun hanya sekilas saja, apakah memang dari kesepuluh anggota laskar pelangi tak ada satupun yang melanjutkan ke SMA Bukan Main di Magai ?<br />
Selain itu tokoh Arai yang dalam Sang Pemimpi diceritakan telah tinggal bersama Ikal sama sekali tak dimunculkan dalam Laskar Pelangi, padahal dalam novel ini dikisahkan bahwa Ikal dan Arai telah tinggal serumah layaknya kakak dan adik semenjak mereka kelas tiga SD.<br />
Sang Pemimpi adalah sekuel dari Laskar Pelangi dan merupakan buku kedua dari apa yang disebutnya sebagai Tetralogi Laskar Pelangi. Seperti diungkap oleh penulisnya dalam lembar ucapan terimakasihnya, kini buku ketiga dan keempat sedang ditulisnya, dan Budaya orang Melayu dan Tionghoa pedalaman di Belitong lah yang akan menjadi platform untuk mendefiniskan tetralogi Laskar Pelangi.<br />
Dari segi penuturan, antara buku pertama dan kedua tak terlihat berbeda, Andrea tampaknya masih konsisten menyuguhkan kisah-kisah kehidupan yang memesona yang dirangkai dengan kalimat-kalimat yang menyihir pembacanya sehingga pembaca dibawa berkelana menerobos sudut-sudut kehidupan anak-anak kampung Melayu yang polos, sederhana namun memiliki kekuatan terhadap cinta, persahabatan, pengorbanan, dan tekad yang keras untuk mewujudkan mimpi mereka.<br />
Tiap-tiap kisah yang dituturkan baik yang penuh dengan kelucuan, keharuan, tragedi dll diungkap dengan teknik bercerita yang memukau, tak heran jika Nicole Horner dalam endorsmentnya mengatakan bahwa Andrea adalah seorang seniman kata-kata.<br />
Kehadiran Sang Pemimpi dalam ranah perbukuan tanah air masih dalam situasi yang sama ketika Laskar Pelangi diterbitkan, buku-buku fiksi yang beredar masih banyak yang bertutur mengenai kehidupan kaum urban dengan segala permasalahannya atau cerita-cerita remaja metropolitan yang tak lepas dari problem cintanya.<br />
“Kita akan sekolah ke Perancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apapun yang terjadi!”</p>
<p>Itulah sedikir review dari buku kedua Laskar Pelangi yang berjudul &#8220;Sang Pemimpi&#8221; Bagi yang belum membacanya silahkan download ebooknya di <a href="http://cemenk-cantique.com/18">sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cemenk-cantique.com/sang-pemimpi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laskar Pelangi</title>
		<link>http://cemenk-cantique.com/laskar-pelangi</link>
		<comments>http://cemenk-cantique.com/laskar-pelangi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 16:38:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cemenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Tetralogi laskar pelangi]]></category>
		<category><![CDATA[andrea hirata]]></category>
		<category><![CDATA[dan mahar]]></category>
		<category><![CDATA[kalau tidak]]></category>
		<category><![CDATA[laskar pelangi]]></category>
		<category><![CDATA[lintang]]></category>
		<category><![CDATA[mendaftar sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cemenk-cantique.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[SEBUAH adaptasi sinema dari novel fenomenal “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, yang mengambil setting di akhir tahun 70-an. Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara), serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://arindablog.files.wordpress.com/2008/10/laskar_pelangi.jpg" alt="" width="236" height="341" />SEBUAH adaptasi sinema dari novel fenomenal “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, yang mengambil setting di akhir tahun 70-an. Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara), serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Ke 10 murid yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah, menjalin kisah yang tak terlupakan.</p>
<p style="text-align: justify;">5 tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke 10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang untuk terus bisa sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah upaya untuk tetap mempertahankan sekolah, mereka kembali harus menghadapi tantangan yang besar. Sanggupkah mereka bertahan menghadapi cobaan demi cobaan?</p>
<p style="text-align: justify;">Nah untuk lebih lengkapnya silahkan menonton film atau membaca buku laskar pelangi. Tapi kalo  menurut k lebih baik baca bukunya aja, karena lebih keren bukunya dari pada filmnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah bagi yang belum mempunya bukunya silahkan download ebooknya di <a href="http://cemenk-cantique.com/18"><strong>sini</strong></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>kalo di bawah ini adalah riview film laskar pelangi </strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong></strong></p>
<p><object width="425" height="344" data="http://www.youtube.com/v/fFZVM8EDbKA&amp;hl=en&amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/fFZVM8EDbKA&amp;hl=en&amp;fs=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /></object><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cemenk-cantique.com/laskar-pelangi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
